Home » , » GURUKU PAHLAWANKU YANG TAK PERNAH KULUPAKAN

GURUKU PAHLAWANKU YANG TAK PERNAH KULUPAKAN

Written By Budi Siswanto on Senin, 12 November 2012 | Senin, November 12, 2012

Guruku Pahlawanku yang Tak Pernah Kulupakan sampai kapanpun, mereka membuatku belajar tentang arti kehidupan yang sebenarnya, mereka mendidik, mengarahkan, saling berbagi dan memberikan pengalaman, ilmunya, kedisiplinan, kemandirian, kasih sayang, suri tauladan bagi kami yang haus akan semuanya dan bisa memaknai hidup dengan jauh lebih sederhana dengan membuat rencana masa depan, impian, cita-cita, harapan untuk menuju ke kehidupan yang lebih baik. Engkau mulai mengajarkanku menulis, membaca, berhitung, menghafalkan, memahami dan mengerti dengan sangat sabar dan telaten sampai kami bisa berkata "Wahai Hidup akan kusapa engkau dengan semua misteri dan kejutanmu dengan senyuman penuh arti, karena aku sudah mempunyai bekal yang cukup yang kudapatkan dari seorang Pahlawan Hidupku yaitu GURUKU."

Kesuksesanku sekarang tidak lepas dari tangan dinginmu dalam memperlakukan kami dengan penuh kedisiplinan, kemandirian, ketegasan disertai dengan kelembutan, kasih sayang dan penuh cinta kasih. Hukuman fisik seperti berdiri di depan kelas dengan salah satu kaki diangkat, membersihkan toilet sekolah, dijemur di lapangan sekolah, menulis kalimat yang diulang-ulang sesuai dengan kesalahan kita terkadang sampai diskors tidak boleh mengikuti pelajaran tidak menyurutkan aku untuk tetap selalu menghormatimu, memperlakukanmu layaknya seorang pahlawan yang membawa penerangan dalam hidupku dan tidak membuatku untuk membencimu, menghinamu, tidak menghormatimu dan menghakimimu atas semua yang telah Engkau lakukan padaku. Takkan pernah habis kata untuk menggambarkan jasa-jasamu yang sangat besar dalam membuatku bisa manapaki hidup sesuai dengan pilihanku. Sekarang aku sudah menjadi orang tua dari seorang bidadari kecil yang cantik dan sudah menginjak bangku sekolah dasar kelas -3 dimana dari ceritanya aku bisa mengambil kesimpulan bahwa wajah guru yang dulu sangat aku agung-agungkan kini telah berubah. Guru yang dulu sangat mencintai pekerjaannya dan dengan ikhlas mengabdi menjadi tenaga pendidik sampai akhir hayatnya, guru yang rela mengorbankan waktu, tenaga dan pikirannya hanya untuk memandaikan anak didiknya, ternyata sekarang semuanya telah berubah dengan sangat drastis. Yang dijumpai putriku sekarang adalah seorang guru yang mementingkan karir keguruannya dan berupaya untuk mendapatkan sertifikasinya dengan berbagai cara, guru yang sedikit egois dan pamrih, guru yang keluar dari platform profesionalitasnya, guru yang mementingkan menuntaskan materi belajar tanpa mau tahu bahwa anak didiknya bisa mengikuti ataukah tidak. Apakah sistem pendidikan kita yang membuat para guru berubah dengan padatnya kurrikulum dan tuntutan ketercapain standart baku yang telah ditetapkan oleh pemerintah ? Ataukah mentalitas guru sekarang tidak sebaik guru dahulu yang murni bertujuan untuk membuat anak didiknya pandai, disiplin dan mandiri ? Siapa yang harus dipersalahkan dengan semua ini ? 

Dunia pendidikan semakin berkembang dewasa ini, era digital membentuk sistem pendidikan menjadi lebih mudah untuk diakses dengan kurikulum yang semakin padat dengan semakin berkembangnya teknologi dan tuntutan globalisasi pendidikan, peran guru juga semakin sentral terasa, tetapi yang menjadi pertanyaan "Sudah siapkah kita dengan semua ini ?" Sudah siapkah guru dengan kualifikasinya dan menerima sistem pendidikan yang semakin kompleks ? Sudah siapkah para murid dalam menerima materi pendidikan dengan kurrikulum yang semakin padat ini ? Dan sudah siapkah fasilitas pendidikan kita seperti sarana dan prasarana belajar mengajar meliputi gedung sekolah yang layak dan memadai, buku-buku dengan materi yang berkualitas, digital tools seperti komputer, internet dll ? Sudah siapkah para orang tua murid membiayai putra-putrinya untuk terus bersekolah dimana biaya pendidikan yang semakin mahal dan ada wacana bahwa pendidikan kedepannya hanya milik orang-orang kaya dan bukan untuk orang miskin jika pemerintah masih tetap dengan sistem pendidikan yang sekarang ini berjalan ?

Problematika dunia kependidikan semakin kompleks, peran guru semakin disorot dimana guru yang dahulu dikenal dengan sebutan "Pahlawan Tanpa Tanda Jasa" atau "Si Umar Bakri," kini mulai dipertanyakan kredibilitasnya. Guru yang kata orang Jawa bilang "diGUgu lan ditiRU" mulai tidak menunjukkan keguruannya yang menjadi suri tauladan yang baik bagi para anak didiknya. Kualifikasi guru dengan kualitas yang masih diragukan dan dipertanyakan, dimana hasil penelitian oleh Dikbud bahwa 54% guru belum memenuhi standart kualifikasi yang telah ditetapkan pemerintah. Guru yang dulunya merupakan profesi mulia tetapi jarang peminatnya karena tingkat kesejahteraan guru dahulu yang masih sangat memprihatinkan, tetapi sejak eranya Presiden Gus Dur, kesejahteraan guru semakin meningkat sehingga profesi guru merupakan profesi yang selalu menjadi hot topik dan selalu diburu oleh para generasi muda kita sekarang, dimana dahulu guru yang mempunyai sepeda motor atau rumah yang layak bisa dihitung dengan jari, tetapi sekarang guru dengan rumah dan mobil mewah sudah menjadi pemandangan yang biasa. Peningkatan standart kehidupan atau kesejaheraan para guru tidak diimbangi oleh standart kualitas dan kompetensi guru dalam mendidik putra-putri kita.  Profesionalitas guru yang masih perlu untuk ditingkatkan seperti dengan meningkatkan kompetensi guru sebagai pendidik profesional, mampu menerapkan pengetahuan dan ketrampilan dalam belajar mengajar serta mengembalikan platform guru sebagai pembelajar sepanjang hayat. 

Ketika saya ditanya oleh kolega saya yang berasal dari luar negeri : "Sistem pendidikan yang bagaimana yang negaramu terapkan sampai bisa menghasilkan para juara olimpiade sains tingkat dunia ? Sungguh mengherankan bisa menciptakan anak-anak kecil yang jenius dan kreatif, tetapi yang saya sayangkan juga mengapa tidak ada orang hebat dari negaramu yang muncul seperti peraih nobel untuk sains dan lainnya padahal di masa kecilnya banyak anak hebat di negerimu ?"
Saya menjadi tercenung mendapat pertanyaan yang sangat menggugah realitas pendidikan di negeri ini. Beberapa hal yang bisa saya kupas terkait pertanyaan diatas adalah :
  • Kurrikulum yang padat di Pendidikan Dasar : sewaktu saya sekolah SD dulu, mata pelajaran tidak sebanyak sekarang. Dulu IPA, IPS dan Bhs Asing seperti bhs Inggris diberikan sewaktu saya duduk di SLTP, tetapi sekarang mulai kelas I SD sudah diberikan. Padatnya kurrikulum di pendidikan dasar ditambah dengan tambahan waktu belajar memaksa anak kita kehilangan waktu bermainnya, dimana anak butuh sosialisasi dengan teman-temannya lewat bermain, sekarang anak dipaksakan untuk menerima materi yang seharusnya belum saatnya diberikan karena faktor mentalitas dan emosionalitas yang masih labil, sehingga kebanyakan anak sekarang sangat terbeban dengan padatnya kurrikulum yang harus diterima dan dipelajari, meski beberapa anak yang bisa mengatasi beban akan keluar sebagai anak yang berkualitas pelajaran dan ini dibuktikan dengan seringnya menjuarai olimpiade sains tingkat internasional setiap Indonesian mengeluarkan wakilnya, tetapi kualitas secara mental untuk anak tersebut masih dipertanyakan karena continuitas prestasi masih menjadi kendala yang belum tersikapi secara benar. Langkah kongkrit yang harus segera dibenahi adalah harus segera menyederhanakan kurrikulum tetapi tidak mematikan kualitas pendidikan dan mengambil skala prioritas di beberapa kurrikulum yang akan ditetapkan. Bisa juga memindahkan mata pelajaran wajib menjadi kegiatan ekstrakurrikuler terutama untuk bahasa asing sehingga kita bisa mengetahui minat dan bakat anak akan setiap mata pelajaran yang diikutinya.
  • Kualifikasi Guru yang belum memenuhi standart : dengan adanya peninjauan kurrikulum di tahun 2013 yang dicanangkan oleh pemerintah untuk pendidikan dasar, sektor Guru sebagai tenaga pendidik harus bisa mengikuti program tersebut dengan meningkatkan kompetensi Guru supaya bisa memenuhi kualifikasi standart kualitas guru yang telah ditetapkan oleh pemerintah. Peningkatan kompetensi guru supaya bisa menyampaikan kurikulum ke anak didik dengan lebih smooth harus segera diupayakan, tidak hanya sekedar memberikan sertifikasi dalam menunjang kesejehateraan guru saja, tetapi aspek keilmuan dan kualitas profesional sebagai tenaga pengajar sepanjang hayat harus dimulai dari sekarang. Standart kompetensi guru harus selalu ditingkatkan untuk mengejar ketertinggalan dalam proses belajar mengajar sehingga kualitas pelajaran yang diterima oleh para murid bisa menjadikan negeri ini lebih maju kedepannya.
  • Sistem Pengajaran
  • Fasilitas Pendidikan yang masih belum memadai
  • Sistem Penilaian 
  • Budaya Menghukum dan Menghakimi
 

Dipersembahkan Oleh : Budi Siswanto ~ Guyonane Wong Ndablek

Kentir01 Sobat sedang membaca artikel tentang GURUKU PAHLAWANKU YANG TAK PERNAH KULUPAKAN dan sobat bisa menemukan artikel GURUKU PAHLAWANKU YANG TAK PERNAH KULUPAKAN ini dengan url http://guyonsmart.blogspot.com/2012/11/guruku-pahlawanku-yang-tak-pernah.html, Sobat boleh menyebar luaskannya atau mengcopy paste-nya jika artikel GURUKU PAHLAWANKU YANG TAK PERNAH KULUPAKAN ini sangat bermanfaat bagi sobat semua, namun jangan lupa untuk meletakkan link dibawah ini sebagai sumbernya :
Share this article :

6 komentar:

  1. Mas pemilik blog Guyonane Wong Ndablek......tulisannya keren banget alias sesuai tema: Guruku Pahlawanku. Mudah2an masuk dalam daftar pemenang ya. Sukses untuk Lombanya.

    BalasHapus
  2. gan tolong ajarin dong bikin blog yang bener

    BalasHapus
  3. mantep mas harus seperti itu guru adalah pembawa perubahan

    BalasHapus

Harap komentar tidak mengandung pornografi, atau kata-kata yang bersifat melecehkan, menghina, dan menyudutkan partai tertentu... eh salah...hehehe..Berikan komentar terbaikmu supaya anda bisa langsung masuk surga... oke coi... wkwkwkwwk

FOLLOW ME







BANNER KONTES

Blog Review SEO Contest Iconia 2012-2013

 
Support : BING | Google
Copyright © 2013. GUYONANE WONG NDABLEK - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger